Kamis, 17 Maret 2016

Explore Karanganyar "Mengenang Kejayaan Pabrik Gula Tasikmadu & Agrowisata Sondokoro"

Explore Karanganyar "Mengenang Kejayaan Pabrik Gula Tasikmadu & Agrowisata Sondokoro"

Sabtu kemarin saya dan suami main ke Gramedia untuk membeli buku, pada waktu itu suami iseng untuk membeli peta Surakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Alasannya buat referensi traveling, sesampainya dirumah kami melihat isi peta dan mereview beberapa kota yang sebelumnya telah kami datangi. Kemudian saya melihat bahwa di Karanganyar ada objek wisata lain yaitu Agrowisata Sondokoro yang berada di komplek Pabrik Gula Tasikmadu dan Waduk Lalung. Setelah saya fikir-fikir bagus nih tempat wisata, bisa berwisata sekalian belajar dan membandingkan antara Pabrik Gula di Klaten dengan Pabrik Gula Tasikmadu di Karanganyar serta jarak dari rumah tidak terlalu jauh. Berhubung jadwal libur suami masih ada 1 hari lagi akhirnya saya meminta hari minggu kita traveling ke pabrik gula dan sekitarnya dengan alasan ngidam jalan-jalan alhamdulilah suami setuju. hehe

Hari minggu pagi saya mempersiapkan bekal makanan sambil baca beberapa info tentang Agrowisata Sondokoro dan Pabrik GulaTasikmadu, tidak lupa juga saya mencari rute untuk mencapai tempat tujuan menggunakan google map dan waze. Setelah persiapan selesai akhirnya kami berangkat dari rumah di manahan melalui jalan Jenderal Ahmad Yani- Jl.Tentara Pelajar kemudian dilanjutkan menuju jalan arah Tawang Mangu dan belok kiri di perempatan Papahan yang ditandai depan tugu berwarna hitam seperti pura di Bali , jarak yang ditempuh sekitar 15 km dengan waktu 40 menit.

Menurut sejarah Pabrik Gula Tasikmadu didirikan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegaran IV pada Tahun 1871 di Desa Ngijo Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar. Pabrik Gula Tasikmadu berdiri di atas tanah seluas 28,364 hektar milik Kraton Mangkunegaran. Pada Tahun 1996 Pabrik Gula Tasikmadu menjadi salah satu unit kerja dari PT Perkebunan Nusantara IX.  Pabrik Gula Tasikmadu merupakan aset ekonomi dan aset budaya yang tak ternilai.
(Pabrik Gula Tasikmadu)

Agrowisata Sondokoro berada di area Pabrik Gula Tasikmadu, di halaman depan terdapat kremoon (gerbong) buatan Tahun 1875 yang digunakan Mangkunegaran IV saat mengunjungi pabrik dan ada pula gerbong berwarna hijau buatan S.Chevalier Construction Paris yang digunakan Mangkunegaran IV untuk menemui rakyat.  Agrowisata Sondokoro merupakan obyek wisata sejarah yang dikemas dalam suasana yang modern. Tiket masuk tempat wisata yaitu Rp.5000,- , fasilitas di sekitar tempat Agrowisata Sondokoro yaitu arena bermain, kantin, mushola, taman, penjualan souvenir dan panggung hiburan. Zona bermain anak dibagi menjadi beberapa seperti water boom,  aquarium air laut & tawar, theater untuk melihat film dokumenter pengolahan tebu,monumen penggilingan tebu, taman edukatif,dan beberapa kandang hewan langka yang tersebar di sekeliling tempat agrowisata.

 (Monumen Mesin Giling Tebu)

Setelah puas mengelilingi Agrowisata Sondokoro saya penasaran ingin melihat Pabrik Gula Tasikmadu, untuk mengelilingi pabrik disediakan kereta lokomotif dengan dibagi menjadi 2 rute, ada Spoor Tebu dan Spoor Sakarosa. Setelah bertanya kepada petugas ternyata perbedaan Spoor Tebu dan Spoor Sakarosa yaitu pada rute yang dilalui kalau Spoor Sakarosa melewati terowongan. Akhirnya saya memilih untuk naik Spoor Tebu dengan harga tiket Rp.10.000,-. Pemandangan pertama kali yang saya lihat yaitu lori-lori bekas yang tidak terpakai, dulunya digunakan untuk mengangkut tebu hasil panen. Kemudian kami melewati beberapa gedung tua tempat pengolahan tebu, mesin-mesin pengolahan dan juga kebun tebu. Selama di perjalanan terdapat banyak poster yang tertempel di dinding sebagai informasi pengolahan tebu dari awal pembibitan, panen tebu, pengangkutan tebu sampai proses pembuatan gula.Kami juga melewati beberapa rumah dinas yang dulu dipakai pekerja pabrik untuk tinggal, unikny di beberapa rumah tersambung dengan rel kereta mungkin dulu selain mobil kereta juga digunakan sebagai alat trasportasi pekerja di dalam pabrik. Setelah selesai mengelilingi pabrik saya membayangkan bagaimana masa-masa kejayaan pabrik ini yang masih beroperasi, namun sayang kejayaan itu kini tertutup debu tebal dan hanya menjadi bagian dari sejarah.

(Spoor Tebu)

Selesai berkeliling di Pabrik Gula Tasikmadu waktu baru menunjukkan pukul 11.00  saya dan suami teringat bahwa pada peta yang kami beli di Karanganyar ada waduk namanya Waduk Lalung karena tidak tahu tempatnya akhirnya saya memutuskan untuk menghubungi teman asli orang Karanganyar. Berdasarkan info dari teman jarak dari Pabrik Gula Tasikmadu ke waduk tidaklah jauh akhirnya kami memutuskan untuk melihat waduk Tersebut. Waduk Lalung berada di Jalan Lalung-Bekonang Kelurahan Lalung Kecamatan Karanganyar, patokan untuk menuju Waduk Lalung dari Tugu Pancasila belok kiri dan lurus terus melalui jalan Slamet Riyadi posisi waduk berada di sebelah kanan, setelah mengikuti arahan google map sampailah kami di Waduk Lalung. Menurut sejarah Waduk Lalung dibangun pada Tahun 1940 oleh pemerintah Hindia Belanda, tujuan dibangunnya waduk ini adalah untuk mengairi sawah dan sebagai tadah hujan. Waduk Lalung tidak sebesar waduk yang berada di Wonogiri atau Klaten, pada saat kami berkunjung kesana banyak orang yang sedang memancing karena seringnya kami berkunjung ke waduk sampai-sampai suami saya ingin membeli alat pancing hehe. Di area waduk tidak ada objek wisata jadi waduk ini hanya benar-benar difungsikan untuk mengairi sawah yang berada di sekitar waduk. Setelah puas mengelilingi waduk akhirnya kami memutuskan untuk shalat dan beristirahat sejenak kemudian dilanjutkan pulang kerumah.

Traveling kali ini sangat menyenangkan selain jaraknya yang tidak terlalu jauh dari rumah dan berhasil menghilangkan rasa penat, dengan berwisata di Agrowisata Sondokoro/ Pabrik Gula Tasikmadu juga menambah wawasan saya mengenai pengolahan tebu dan mengenang bagaimana kejayaannya dulu. Oh iya, usut punya usut setelah sampai dirumah dan baca-baca info mengenai Waduk Lalung ternyata disana tempatnya agak angker dan banyak penampakan, tapi untung saya tau nya udah sampai rumah dan gak nemu yang aneh-aneh alhamdulilah semoga saja kami dijauhkan dari hal-hal yang aneh hehe...



Selasa, 23 Februari 2016

ibu hamil jalan-jalan" Explore Wonogiri"

Cerita ibu hamil jalan-jalan di Wonogiri

Alhamdulilah sampai detik ini  masih dikasih nikmat hidup dan sehat sama Allah, akhir-akhir ini walaupun kehamilan udah menginjak 5 bulan 2minggu tapi ngidam masih aja gak ilang-ilang maksudnya ngidam jalan-jalan. Ceritanya kemarin tanggal 21 februari saya dan suami ngebolang ke Wonogiri. kenapa memilih untuk ngebolang ke Wonogiri karena jaraknya dekat dengan Solo tempat tinggal saya sekitar 40 km  dan kalau perjalanan menggunakan sepeda motor waktu tempuh cuma 1 jam, enak banget kan perjalanan 1 jam tapi bisa maen ke kota lain. Yah salah satu hal yang saya sukai tinggal di Solo itu adalah jarak ke kota tetangganya deket banget.
 
Sebenernya rencana awal pengen ngebolang ke Semarang pake kereta tapi jadwal kereta dari Solo itu adanya jam 5.20 dari stasiun Purwosari tapi nyubuh banget harus jam berapa saya siap-siap masak dll, akhirnya malam sabtu saya cari alternatif lain dan Wonogiri jadi salah satu tempat yang akhirnya saya pilih buat ngisi waktu weekend. Malam itu juga saya cari referensi dari internet tentang tempat wisata yang ada di Wonogiri dan di instagram explore Wonogiri,karena ngelihat jarak dan kondisi saya sebagai bumil yang gak bisa egois pengen maen kemana-mana tapi harus mikirin kesehatan dede utun akhirnya saya pilih untuk main ke Waduk Gajah Mungkur karena jaraknya tidak terlalu jauh dari pusat kota Wonogiri dan waduknya sangat luas jadi penasaran buat pergi kesana.

Hari minggu pagi selepas shalat subuh  saya mulai beres-beres rumah dan masak buat bekal selama perjalanan, alasan kenapa masak dan bawa bekel sih karena biar tau kebersihan makanan dan komposisinya maklum bumil gak boleh makan sembarangan, tapi selain itu bisa menghemat budget juga hehe bukan pelit ngeluarin anggaran buat wisata kuliner ya. Beres masak badan saya tumbang karena kondisi lagi hamil kadang gak nentu tiba-tiba sehat tapi beberapa menit kemudian bisa tumbang akhirnya suami putuskan buat istirahat dulu dan sarapan serta packing.

Jam 8.30 akhirnya saya memulai perjalanan berkendara motor dari rumah di daerah Manahan ke Wonogiri, persiapan untuk dijalan selain bekal makan dan minum saya bawa jas hujan karena masih musim hujan, pake jaket yang tebel, masker, helm dan kacamata kalau dilihat dari gaya nya sih bukannya gahol gaya ibu-ibu muda tapi lebih tepat mirip robot hehe gak papa lah yang penting safety ditambah saya bawa bantalan buat alas duduk, bumil kan dikit-dikit suka pegel jadi biar mengurangi rasa pegel selama perjalanan pake motor akhirnya saya bawa ganjalan duduk kaya bantal gitu deh dan kalau mulai pegel jangan maksain jalan istirahat aja dulu sambil menikmati perjalanan toh namanya kan jalan-jalan jadi gak dikejar waktu dan bisa kita manfaatkan untuk melihat pemandangan atau kondisi selama perjalanan.

Karena baru pertama kali ke Wonogiri dan gak tau jalan akhirnya mintalah bantuan waze salah satu aplikasi petunjuk arah, jalan yang kita pilih itu dari Manahan ke arah Taman Sriwedari kemudian ke Solo Baru lanjut Sukoharjo dan masuk jalan raya Sukoharjo-Wonogiri. Karena saya pergi hari minggu kondisi jalanan lumayan padat, waktu ngelewatin Taman Sriwedari karena baru car free day jadi antara kendaraan dan pejalan kaki ramai berlalu lalang, lewat Solo Baru pun tidak jauh berbeda tapi di asikin aja. Hal yang berkesan buat saya selama melalui jalan raya Sukoharjo-Wonogiri itu adalah ketika melewati jalan kanan kirinya masih ada hamparan sawah yang hijau terbentang dan latar belakang bukit-bukit subhanallah indah banget jadi saya bisa merefresh otak dan merecharge energi baru.


Ketika memasuki kota Wonogiri tata kotanya bagus, rapih, bersih, jalan pun lebar jadi saya sangat suka, selama perjalanan saya mengikuti petunjuk waze akhirnya saya sampai di gerbang PLTA Waduk Gajah Mungkur, ketika masuk jalanannya naik turun dan latar belakangnya bukit indah banget. Dari gerbang awal menuju waduk gak begitu jauh kita harus melewati jalan pinggir sungai dan jembatan baru kemudian kita sampai di pintu PLTA Waduk Gajah Mungkur,tapi sayang pintunya gak bisa dibuka dan selain petugas dilarang untuk masuk akhirnya kita jalan lagi menuju Tugu Tani dimana disekelilingnya ada kursi seperti untuk tempat pertunjukan dan beberapa orang yang berjualan akhirnya saya dan suami memutuskan untuk beristirahat disana dan melihat pemandangan waduk yang sangat luas sambil menikmati ice cream pot yang dijual disana lumayan melepas lelah sambil makan yang dingin-dingin biar lebih adem karena cuaca disana sangat panas. 
( Tugu Tani)
Menurut beberapa sumber waduk ini dibangun pada Tahun 1976-1981. Luas daerah genangan lebih dari 8.800 ha dan luas daerah yang dibebaskan 90 km2 yang terdiri dari 51 desa di 7 kecamatan. Pada saat pembebasan daerah genangan ini mengorbankan 12.525 kepala keluarga terdiri dari 68.750 jiwa yang secara suka rela melakukan Program Bedhol desa dengan bertransmigrasi ke Sumatera. Pantesan waduk ini luas banget ternyata sampe 51 desa yang tergenang. Manfaat dibangunnya waduk ini adalah sebagai pengendali banjir (flood control) Sungai Bengawan Solo, penyedia air irigasi untuk daerah Kabupaten Klaten, Sukoharjo, Karang anyar dan Sragen. Penyedia tenaga listrik untuk daerah kabupaten Wonogiri, budidaya perikanan air tawar dan juga sebagai obyek wisata. 
(Aliran air sungai dari Waduk Gajah Mungkur)

Waduk Gajah Mungkur masa pakainya bisa sampai 100 tahun dari pertama dibangun, namun karena disebabkan laju sedimentasi yang sangat tinggi mempercepat pendangkalan waduk, dengan semakin dangkalnya waduk dikhawatirkan waduk gak akan lagi sanggup menampung air penyebab banjir terutama daerah hilir sungai Bengawan Solo. Maka dari itu harus ada upaya dari pemerintah setempat untuk mengelola waduk ini karena merupakan salah satu aset bangsa dan pengorbanan penduduk dahulu tidaklah sia-sia. 

Beres keliling-keliling akhirnya saya dan suami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju objek wisata lainnya yang ada di Wonogiri, akhirnya kami pilih untuk mengunjungi Museum Wayang Indonesia yang letaknya sekitar 14km dari Waduk Gajah Mungkur, perjalananpun dilanjutkan. Selama di perjalanan suasananya sangat hijau dan indah kanan kiri jalan ditanami sayur-sayuran, sawah dan ada juga penambangan batu kapur. Akhirnya kami sampai di Museum Wayang tapi sayangnya museum saat itu tutup jadi kami hanya melihat-lihat saja dari kaca luar gedung. Museumnya menampung koleksi wayang-wayang kulit, lokasi museum tepat di pinggir jalan jadi engga akan susah untuk menemukan museum ini. Karena museum tutup dan sudah adzan dzhur akhirnya kami memutuskan untuk kembali istirahat sekalian shalat dzuhur. 

Selepas shalat kami memulai perjalanan pulang dan mencari tempat yang pas untuk makan bekal siang yang dibawa dari rumah, selama perjalanan pulang kami menelusuri pinggiran waduk yang sangat luas sambil melihat bapak-bapak yang memancing dipinggir sungai. Kanan kiri jalan sekeliling waduk banyak penjual yang menjajakan makanan ikan goreng untuk oleh-oleh. sambil melanjutkan perjalanan pulang dan kembali melihat pemandangan  akhirnya kami memutuskan untuk istirahat di pinggir sawah karena udaranya sejuk, pemandangannya pun indah subhanallah. Makan di pinggir sawah bukannya membuat kami risih tapi malah semakin lahap makan engga tau karena lapar gak tau karena memang suasananya nyaman banget yah beda-beda tipis lah. 


Setelah bekal makanan raib dalam sekejap kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang kembali melewati jalanan Sukoharjo-Solo Baru dan Manahan akhirnya jam 3 sore kami sampai dirumah dengan selamat.Selama perjalanan saya istirahat beberapa kali maklum bumil selain cepet pegel juga beser alias selalu pengen ke kamar kecil hehe. Di perjalan banyak banget hikmah dan ilmu yang saya dapat. Mulai dari menikmati pemandangan selama perjalanan, belajar tata kota,banyak berdiskusi dan bercanda dengan suami, belajar sejarah dan kehidupan warga sekitar. Traveling itu bukan hanya sekedar jalan-jalan ketempat jauh yang ngabisin uang banyak, kita bisa membawa bekal makanan, buah-buahan, minum dan snack ringan untuk menemani selama perjalanan. Traveling bisa dilakuin dengan mengunjungi kota terdekat, belajar budaya kearifan warga lokal dan lingkungan lainnya. Traveling juga engga ribet ko asal ada niat dan nikmati aja selama perjalanan mau macet panas-panasan atau kehujanan namanya juga jalan-jalan jadi ya nikmati aja untuk melepas lelah dari kesibukan aktifitas kerja sehari-hari dan juga untuk merecharge energi serta memperbanyak pengetahuan. Banyak nikmat Allah yang tersebar di muka bumi ini jadi mulailah dengan berjalan setapak demi setapak untuk melihat keindahan dan bersyukur akan nikmat yang Allah berikan untuk kita. Kalau kata walikota Bandung biar gak suka marah-marah harus banyak piknik hehhehe. Sekian cerita jalan-jalan saya dan suami di Wonogiri sampai jumpa di cerita perjalanan lainnya ^_^

Rindu namun hanya sebatas rindu

Rindu mungkin itu yang saya rasakan, maksud rindu disini itu adalah rindu banget buat ngurus lagi blog ini yang sempat vakum lama banget, terakhir ngepost tulisan di tahun 2014 dan sekarang udah masuk bulan februari  tahun 2016. Lama banget blog ini gak keurus karena banyak hal kaya kerjaan yang padet, laptop yang sering ngadat karena kebanyakan data dan juga sinyal internet yang gak bisa kompromi. 

Tapi sekarang insyaAllah mudah-mudahan bisa ngurus blog lagi dimulai dengan membersihkan blog dari sarang laba-laba dan jamur karena udah lama banget gak di urus hehe. Mudah-mudahan kedepannya makin produktif karena sekarang lebih fokus dirumah menanti kelahiran dede utun yang insyaAllah udah menginjak usia 6 bulan. Udah lama gak ngurus blog tau-tau banyak banget hal dalam hidup yang berubah dari mulai status yang udah nikah, sebentar lagi mau jadi orang tua dan juga pekerjaan. Mudah-mudahan waktu yang udah berlalu dipake dengan hal-hal positif amiinnn. 

Sekarang saya lagi seneng traveling, belajar bercocok tanam, belajar memasak dan membuat beberapa kreasi tangan, tujuan awal buat ngilangin rasa jenuh karena yang biasanya sibuk kerja sekarang fokus dirumah, insyaAllah mudah-mudahan kedepannya bisa saya share cerita traveling, resep masakan, belajar bercocok tanam dan beberapa kerajinan tangan yang sebenernya saya ambil referensinya dari temen-temen bloger lain hehehe


Kalau udah curhat pasti panjang lebar,,mudah-mudahan kedepannya bisa aktif lagi nulis blog dan meningkatkan kualitas tulisannya yang hampir lama banget gak pernah nulis lagi huhuhuhu....ayo semangat 


Solo, 24 Februari 2016

Kamis, 15 Mei 2014

Ngebolang di Kota HUjan

Traveling/ melancong atau sekarang lebih trend biasa dibilang ngebolang adalah salah satu hobi gw sejak masa SMA tingkat pertama, dulu paling berani ngebolang disekitaran Bandung entah itu touring ke daerah lembang, cimahi, atau daerah lainnya di kota Bandung. Semenjak kuliah, gw mulai berani memperlebar ekspansi ngebolang dengan mengunjungi beberapa daerah di pulau jawa seperti Jakarta, Tangerang, Jogja, Cirebon, dan Garut. Berbekal absensi minimal 70% untuk syarat mengikuti ujian kuliah teori, akhirnya jatah libur kuliah 30% itulah gw gunakan untuk ngebolang atau sekedar mengikuti acara kemahasiswaan diluar kampus (mamah,,bapa maafkan anakmu hehe,,walaupun sering bolos tapi IPK alhamdulilah aman terkendali hehe). Semenjak kerja hobi ngebolang gw semakin menjadi-jadi ditambah punya penghasilan sendiri membuat daftar rencana ngebolang gw semakin panjang saja hehe.

Namun hobi ngebolang kadang tak berjalan mulus, banyak kritikan yang gw terima dari orang-orag sekitar, berikut statment mereka..
  1. Ngapain ngebolang, entar diculik loh!
  2. Ah lagi-lagi ngebolang paling cuma numpang narsis foto-foto doang buat dipajang di Facebook n DP BBM. ( Dalem banget bro)
  3. Hari gini ngebolang disaat perekonomian Indonesia lagi sulit elu lebih suka ngehabisin uang secara percuma dari pada di investasiin?
  4. Gak cape ya ngebolang? Paling cuma kuliner muter-muter kaya orang lagi tawaf aja. (yah itung-itung gue belajar tawar sebelum pergi umroh/haji kan g masalah :D)
  5. Ngebolang keliling Indonesia ah gak seru, keluar negeri dong Eropa gitu,, Ok buat yang berstatmen kaya gini gw cuma bisa bilang tabungan gw belum cukup, puas? Hehehhe
  6. Dan yang paling menyayat hati menghujam jantung adalah statment temen gue yang paling iseng “ Ngapain sih ngebolang mulu keliling pulau Jawa, lu gakkan dapet jodoh karena ngebolang, udah jauh-jauh kesana kesini palingan jodoh lu anak tetangga samping rumah” jleb banget kan dikatain gitu, setelah usut diusut ternyata jodoh temen gw itu anak kampung sebelah dan bentar lagi mau merit,,hmm pantesan dia bilang gitu gw cuma bisa tepok jidat deh hehe.
Walaupun dengan ngebolang banyak pro dan kontra yang gw dapet, tapi gak menyurutkan hobi gw buat ngebolang, karena banyak manfaat yang gw dapet selain banyak temen, makanan kuliner khas, bahkan kebudayaan dan tradisi didaerah tersebut. Satu minggu yang lalu gw ngebolang sama temen-temen ke Bogor dengan tempat tujuan Kebun Raya Bogor. Setelah diskusi lewat SMS dan konfirmasi dari temen-temen akhirnya kita sepakat pergi hari sabtu tempat meeting point di Stasiun Manggarai jam 9.00 pagi. Kereta jadi transportasi yang gw pilih karena lebih aman, hemat, efektif dan efisien dibandingkan pake bus yang kemungkinan terjebak macetnya sangat tinggi dibandingkan naik kereta, secara gitu gak mungkin kan naik kereta kena macet emang ada komo lewat??hehe.
 
(Rutu KRL JABODETABEK)

Gw start dari rumah jam 8.00 janjian sama temen di stasiun Buaran jam 8.45 dan melanjutkan perjalanan ke stasiun Manggarai transit dulu di Stasiun Jatinegara dan bayar tiket kereta lagi karena gw belum faham bayar kereta pake sistem kartu yang mulai diberlakuin di Jakarta. Akhirnya jam 9.00 gw sampe di Manggarai dan  ketemu dengan 2 teman gw. Ternyata perjalanan ngebolang hari itu gak berjalan sesuai dengan waktu yang ditentukan karena satu temen gw datang terlambat alhasil kita nunggu lama tapi gak datang-datang dan akhirnya kita memutuskan membagi 2 tim, yang 1 duluan ke Bogor dan yang 1 lagi nunggu temen gw sampe ke Manggarai.
 
(Stasiun Manggarai)

Jam 12.15 gw sampe stasiun Bogor, karena mulai kelaparan kita jalan ke taman dipingir stasiun Bogor nama taman itu adalah Taman Topi disana banyak banget penjual makanan dengan harga sangat terjangkau, akhirnya temen gw beli rujak dengan harga 1 porsi 10.000 sedangkan gw lebih memilih beli asinan Bogor  karena asinan Bogor adalah salah satu makanan khas kota hujan ini, ketika dicicipi ternyata asinan sayurnya enak banget dan harganya terjangkau cuma 12.000, asam manis pedasnya maknyus banget deh. Sambil nunggu temen, kita ngadem dibawah tenda dan shalat di mushola terdekat, jam 12.30 temen gw yang pergi nyusul nyampe juga. Jam 13.00 kita pergi ke Kebun Raya Bogor naik angkot no 02 dan tanya sama sopirnya “ Pak lewat kebun Raya kan?” dan dijawab anggukan oleh bapak sopir sebagai tanda mengiyakan, akhirnya rombongan pun naik angkot. Selang 10 menit kita sampai di gerbang kebun raya, tapi ternyata supirnya salah nurunin di gerbang belakang jadinya kita jalan kaki sampai gerbang utama kebun raya. Ketika mulai masuk gerbang utama Kebun Raya Bogor kita ngantri di loket buat beli tiket masuk seharga 14.000. Setelah masuk ke Kebun Raya Bogor, suasananya adem banget karena banyak pohon-pohon besar, danau, bebatuan, angin pokonya adem banget deh ditambah sungai-sungai kecil disepanjang jalan menambah keindahan, sebagai anak muda yang narsis abis tapi gak sadis, kita mulai berfoto ria sebagai kenang-kenangan. 

Setelah berjalan beberapa waktu, temen gw nyaranin buat maen ke Kebun Anggrek. Buat pergi ke kebun anggrek gak susah ko kita tinggal ikutin petunjuk arah, sebelum sampe ke kebun anggrek kita bakal melewati danau besar yang diatasnya ditumbuhi tanaman teratai ternyata danau itu namanya Danau Gunting, disebelahnya ada lapangan hijau berbukit yang mirip bukit teletubies hehe dan sesi foto-foto pun dimulai lebih menggila hehe.

Setelah puas berfoto ria di bukit dan Danau Gunting akhirnya kita menuju kebun anggrek, buat masuk ke kebun ini gak bayar ko. Ketika masuk ke kebun ini gw cuma bisa bilang Subhanallah Maha Besar Allah,,pemandangannya indah banget kece badai kalo kata orang jepang sih sugoiiiiiii hehe. Tatanan kebun yang rapih, variasi tanaman anggrek yang banyak banget, air mancur semuanya di setting sedemikian rupa  pokonya keren banget deh. Perjalanan kita dilanjut keliling-keliling kebun raya sambil salah satu temen gw nyeletuk nyeritain cerita mistis yang terjadi di sekitar kebun raya ini salah satunya legenda jembatan merah,,hadeuh serem banget. Dasar anak muda setelah diceritain gitu bukannya takut mereka malah semakin penasaran dan akhirnya kita pergi kesana. Sampai di Jembatan Merah gw merasa takjub dengan rangka jembatan itu yang memakai sistem jembatan gantung jadi gak ada kolom yang nahan di tengah-tengahnya keren banget kaya jembatan San Fransisko (kayak yang ngerti ilmu sipil n arsitek aja hehehe).
p17u4dp7q326716i4bvi134462g4 
 (Jembatan Merah)
Setelah puas foto-foto akhirnya kita nemu bunga yang terkenal di kebun ini yaitu bunga bangkai atau bunga Raflesia Arnoldi, bunga ini ukurannya masih tidak terlalu besar karena belum mekar tapi gw beruntung bisa lihat bunga ini secara real gak cuma di buku IPA doang hehe. .
 
(Bunga Raflesia Arnoldi) 
Setelah cape jalan-jalan kita memutuskan buat istirahat didekat patung pohon kelapa karena kaki mulai sakit gara-gara jalan terus, sambil istirahat kita beli ice cream yang dijual koperasi kebun raya seharga 3.000, namanya juga ice cream murah jadi rasanya yah begitulah tapi lumayan buat ngilangin sedikit rasa haus. Jam 15.00 sedikit demi sedikit hujan turun memaksa kita buat berteduh, akhirnya karena hujan gak reda juga, kita memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang karena lapar kita cari tempat kuliner, berdasarkan info yang gw dapet dari temen gw yang asli anak Bogor gw dan temen makan di Mie Ayam Bakso Jamur. Dari Kebun Raya Bogor tempat mie ayam itu gak jauh cuma tinggal jalan kaki nyebrang terus ke sebelah kanan ada bangunan warna putih mirip bangunan belanda dan ada plang Mie Ayam Bakso Jamur Tunggal, akhirnya gw mesen mie ayam bakso jamur seharga 19.000 dan minumnya es lidah buaya seharga 10.000 yang rasanya emang enak dan seger banget. Jam 16.00 gw dkk pulang pake angkot ke stasiun Bogor, dilanjut pake kereta jurusan Bogor-stasiun kota. setelah sampe di kereta badan bener-bener capek akhirnya selama di perjalanan kita tertidur dan selamat sampai rumah masing-masing. Walaupun badan cape, kaki pegel, tapi Bogor memberikan kesan indah buat gw tersendiri, keramahan warganya, keenakan kulinernya, keindahan kebun raya dan lingkungan sekitarnya. Ternyata hobi ngebolang gak cuma ngehabisin duit ko, tapi banyak manfaat yang bisa kita ambil. Itulah sedikit cerita gw tentang ngebolang dan perjalanan di kota hujan.. ^^
Karawang, 15 Mei 2014