Jumat, 11 Mei 2012

Bagaikan Air yang mengalir, sesuai dengan titah-Nya


Cuaca Bandung hari ini bersinar dengan  teriknya, seakan ingin menambah semangat kami. Dengan langkah tergesa karena waktu semakin merangkak, ke enam orang ini melangkahkan kaki menuju tempat pemberhentian angkot. Margahayu ledeng, itulah nama angkot yang akan mengantarkan kami menuju daerah ledeng. Deru mesin angkot memecah keheningan perjalanan kami, 1 jam kami lalui dengan bercerita dan berdiskusi. Tak terasa terminal ledeng sudah berada di depan mata. Lembaran uang dan beberapa koin recehan berpindah tangan dan kami pun tergesa-gesa menuju daerah sersan bajuri, sehingga lupa dengan jaket yang tertinggal di dalam angkot. Dengan refleksnya kaki berlari untuk mengejar angkot bagaikan sebuah drama di dalam sinetron remaja, dan alhamdulilah jaketpun berpindah tangan kepada sang pemilik asli. Jalanan menanjak kami lalui dengan cepat karena matahari hampir berada di puncak kepala sedang tempat tujuan masih berkilo-kilo meter jauhnya. Sebuah proses lobi terjadi antara kami dengan sang pemilik angkot yang akan mengantarkan keenam orng ini menuju terminal parompong. Angkot penuh sesak dengan orang-orang seakan saling berebut oksigen untuk memenuhi paru-paru. Angkot segera berjalan dan berbalik arah. Jalanan berkelok dan tanjakan terus dilalui, hingga membuat kepala pening, namun dengan canda tawa  yang tercipta seakan semuanya tak benar-benar diperdulikan. Sesampainya di terminal parompong, kedatangan keenam orang ini disambut dengan kabut tipis. Udara dingin semakin menusuk tulang, angkot ketiga mengantarkan kami menuju daerah tujuan. Tiba-tiba hujan pun turun dengan sangat deras, seakan tidak ingin kalah dari kabut yang menyambut kedatangan kami. Sebuah ticket masuk, itulah yang kami butuhkan saat ini, hingga kami pun turun dari angkot menuju sebuah pos. Proses lobi terjadi dan akhirnya kesepakatanpun tercapai. Dengan riang kaki-kaki ini mulai berjalan ditemani oleh rintikan hujan dan sinar matahari yang malu-malu untuk menampakkan dirinya. 
Matahari semakin berada tepat diantas kepala, dan adzan pun bersautan. Sebuah panggilan cinta dari Sang Maha Khalik menegur kami untuk melepaskan segala aktifitas keduniawian agar segera bertemu denganNya. Air dingin segera mengusap muka ini manakala proses wudhu terjadi, segar, itulah yang terasa seakan mengalihkan perhatian dari kepenatan yang beberapa waktu lalu terjadi. Setelah shalat, ke delapan orang ini berkumpul untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju sebuah tempat. Curug/ air terjun itulah tujuan kami. Dengan semangat kami langkahkan kaki ini menuju tempat tujuan, namun hidup memang selalu ada rintangan, begitupun dengan perjalanan ini. Jalanan mendaki harus dilalui, selangkah demi selangkah undakan anak tangga menyapa perjalanan kami. Deru nafas saling berlomba dengan langkah ini, dan canda tawapun tak terbendung lagi. Rumput-rumput basah yang sebelumnya bersapaan dengan air hujan, seakan ingin menyapa kami, ilalang di sepanjang jalan dan selokan air yang sangat bening pun ingin membanggakan dirinya kepada kami.  
Deru gemuruh air sayup-sayup terdengar semakin jelas, langkah ini tergesa-gesa untuk sampai di tujuan, namun hamparan perkebunan teh seakan ingin mengalihkan perhatian kami.. Subhanalah, harmonisasi keindahan alam yang Engkau miliki semakin menguatkan hati kami akan ke Maha'an yang Engkau miliki. Deru air semakin kencang terdengar dan memang, dengan anggunnya air meliuk-liuk turun dari dataran atas menuju dataran bawah dengan ringannya, seakan tak ada beban yang iya tanggung, kedelapan orang ini semakin takjub dengan semua yang ada, hanya kata subhanallah yang terucap. 
Sebuah refleksi diri akan sebuah perjalanan yang dilalui, seperti air yang terus mengalir, meliuk-liuk menyusuri hulu menuju hilir. Begitupun hidup yang harus kita lalui, jalanan berliku tak mungkin dapat di hindari, namun dengan keyakinan diri Allah selalu mengantarkan kita menuju jalan yang lurus menuju sebuah tujuan yang indah. Hanya satu pinta dan doa ini, semoga ukhuwah ini tetap terpatri dalam dada kedelapan orang ini untuk sejajar berjalan menyusuri jalanan dakwah yang tak selamanya lurus. Curug ini menjadi saksi, setelah 1 tahun, 5 tahun bahkan sampai sisa hidup ini, bahwa ukhuwah ini tak akan pernah bercerai berai dan tak akan pernah tergadaikan. Semoga Allah meridhoinya
Amin..

Bandung, 12 Mei 2012
Zulfa Afsheen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar