Kamis, 13 Oktober 2011

“Proses Pengelantangan (Bleaching) pada kain Poliester 100%”


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Maksud dan Tujuan
v  Memahami tujuan dan mekanisme pengelantangan dan pemutihan optic pada bahan selulosa , sintetik dan campuran (selulosa & sintetik)
v  Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses pengelantangan dan pemutihan optik
v  Menguasai cara proses pengelantangan dan pemutihan optic dengan berbagai metode
v  Menganalisa dan mengevaluasi hasil proses pengelantangan dan pemutihan oprik.

1.2  Teori Dasar
a.       Tujuan pengelantangan dan pemutihan optik
Tujuan proses pengelantangan adalah untuk menghilangkan kotoran-kotoran organik, organik yang terwujud sebagai pigmen-pigmen warna alami yang tidak bisa hilang hanya dengan proses pemasakan saja. Hal yang sangat berbeda antara pengelantangan dengan pemutihan optik. Dimana tujuan proses pemutihan optik adalah untuk menambah kecerahan Karena bahan mampu memantulkan sinar lebih banyak sehingga kain Nampak lebih putih dan lebih cerah.
b.      Mekanisme pengelantangan dan pemutihan optik.
Proses pengelantangan ini dilakukan dengan merendam bahan dengan suatu larutan yang mengandung zat pengelantang yang bersifat oksidator maupun zat pengelantang yang bersifat reduktor. Senyawa-senyawa organik dalam bahan yang mempunyai ikatan rangkap dioksidasi atau direduksi menjadi ikatan tunggal atau menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga bahan tekstil tersebut menjadi putih.
Pada proses pemutihan optik bahan direndam dalam larutan zat pemutih optik dimana zat ini nantinya akan menyerap sinar ultraviolet dan memantulkannya menjadi sinar tampak pada daerah ungu-biru, sehingga jumlah sinar yang dipantulkan bahan bertambah dan mengurangi pantulan sinar pada daerah kuning atau merah pada bahan.
c.       Zat pengelantangan
Proses pengelantangan yang dilakukan pada selulosa umumnya menggunakan zat oksidator sebagai zat pengelantang. Zat pengelantang yang bersifat oksidator dibagi menjadi dua golongan:
Ø  Mengandung khlor      : Natrium hopoklorit, Natrium khlorit, kan kaporit.
Ø  Tanpa khlor                 : Hidrogen peroksida, Natrium peroksida, Natrium Boraks,        Kalium permanganate, Kalium Khromat.
d.      Metoda pengelantangan
Metoda yang digunakan untuk proses pengelantangan dapat dilakukan secara baik maupun kontinyu. Pengelantangan pada kondisi suhu kamar dapat juga dilakukan dengan menggunakan bak atau J-BOX tanpa pemanasan. Pada system kontinyu (dibenam peras) dengan larutan pengelantang dan didiamkan selama waktu tertentu bergantung dari khlor aktif yang digunakan.

Serat poliester adalah suatu serat sintetik yang terdiri dari polimer-polimer linier. Serat tersebut pada umumnya dikenal dengan nama dagang dacron, teteron, terylene. Poliester dibuat dari asam tereftalat dan etilena glikol. Dacron dibuat dari asamnya dan reaksinya dapat ditulis sebagai berikut:
 







Sedangkan terylene dibuat dari dimetil ester asam tereftalat dengan etilena glikol dan reaksinya sebagai berkut :
 








Sifat – sifat fisika serat poliester adalah sebagai berikut :
1.      Kekutan tarik serat  poliester adalah 4,0 – 6,9 gram/denier dan mulurnya adalah 11%-20% baik dalam keadaan basah maupun kering.
2.      Poliester mempunyai elastisitas yang baik sehingga kain poliester tahan kusut.
3.      Moisture regain dalam kondisi standar (27oC dan RH 65%) adalah 0,4% dan dalam RH 100% adalah 0,6% - 0,8%.
4.      Berat jenis serat poliester adalah 1,38 gram/cm3.
5.      Poliester mulai meleleh pada suhu 250oC-290oC dan terbakar,tetapi tidak meneruskan nyala api dan tidak menguning pada suhu tinggi
6.      Penampang melintang serat poliester berbentuk bulat didalamnya terdapat bintik – bintik dan penampang membujurnya membentuk silinder dengan dinding kulit yang tebal.

Sifat – sifat kimia serat poliester adalah sebagai berikut :
1.      Serat poliester sangat tahan terhadap jamur, bakteri dan serangga.
2.      Poliester berkurang kekuatannya dalam penyinaran yang cukup lama, tetapi ketahanan sinarnya masih lebih baik dibandingkan serat lainnya.
3.      Serat poliester jika direndam dalam air mendidih akan mengkeret sampai 7% dan beberapa zat organik seperti aseton, kloroform pada titik didihnya akan menyebabkan serat poliester mengkeret.
4.      Dimensi kain poliester dapat distabilkan dengan cara di het set.
5.      Poliester tahan asam pada suhu mendidih, tahan asam kuat dingin,tahan basa lemah, kurang tahan asam kuat, tahan zat oksidasi, alkohol, keton, sabun dan zat – zat untuk pencucian kering, poliester larut dalam meta-kresol panas, asam trifluoasetat-orto-klorofenol.
6.      Poliester akan menggelembung dalam larutan 2% asam benzoat, asam salisilat, fenol dan meta-kresol dalam air; dispersi 0,5% monokhlorobenzena, p-dikhlorobenzena, tetrahidronaftalena, metil benzoat dan metil salisilat dalam air ; dispersi 0,3% orto-fenil-fenol dan para-fenilfenol dalam air.
Serat-serat sintetik bersifat Thermoplastik, yaitu serat tersebut akan melunak pada suhu mendekati titik lelehnya, yaitu suhu transisi kedua serat tecapai. Pada suhu ini, akan terjadi pergerakan rantai molekul serat sehingga serat rantai molekul yang semula dalam keadaan tegang menjadi kendur, karena banyak ikatan hidrogen yang terputus membentuk suatu struktur rantai baru. Besarnya pengenduran dan perubahan struktur tersebut tergantung pada suhu dan lamanya waktu pemantapan panas, serta tegangan yang diberikan. Setelah didinginkan, ikatan hidrogen akan terbentuk kembali sehingga bentuk struktur tang baru ini akan kembali stabil pada proses selanjutnya, selama dilakukan pemanasan yang melebihi suhu proses pemantapan panasnya.

BAB II
ISI
2.1 Alat dan Bahan
Alat :
    • Beaker gelas / keramik 500 ml            1 buah
    • Pengaduk kaca                                    1 buah
    • Kasa + kaki tiga + Bunsen                  1 set
    • Timbangan digital
    • Bahan poliester                                   ukuran 25x25
    • Zat sesuai resep
Bahan :
§  H2O2
§  Wetting agent
§  TSP
§  Na2CO3
§  Air
2.2 Langkah Kerja
1. Timbang Kain yang akan dilakukan proses bleaching
2. Hitung Bahan atau zat-zat yang diperlukan
3. Buat larutan pereaksi sesuai dengan perhitungan
4. Lakukan proses Bleaching pada suhu 850C selama 60 menit.
5. Setelah proses bleaching dilakukan kemudian kain dicuci dengan air panas dan dibilas
    dengan air dingin.
6. Keringkan kain dan timbang berat kain
7. Hitung pengurangan berat kain dan tes derajat putih kain
Evaluasi
A.    Pengurangan Berat (%)
§  Menimbang kembali kain yang telah diproses dan kemudian membandingkannya dengan berat kain awal
§  Rumus persentase pengurangan berat :
B.     Test derajat putih
Dilakukan dengan cara visualisasi, metoda ranking
-      Letakan sTeori Dasar metoda Exhaust dan Padding menggunakan Pemitih optik siklik. pemutihing putih adalah metoda Pad-Steam dengan zat penemua kain yang akan ditest saling berdampingan dan Padding menggunakan Pemitih optik siklik. pemutihing putih adalah metoda Pad-Steam dengan zat pendibawah penerangan sinar matahari
-      Bandingkan semua kain dari derajat putihnya, dengan memberikan skor pada masing-masing kain, berikan skor tertinggi untuk kain dengan warna paling putih.
-      Jumlahkan semua skor dan urutkan dari nilai tertinggi ke yang rendah

2.3 Data Percobaan dan perhitungan
Perhitungan Resep
H2O2 (cc/l) = 1,256 ml
Air (ml) = 125,60 ml
TSP (cc/l) = 0,1884 ml
Na2CO3 (gr/l) = 0,3768 gram
Wetting agent (cc/l) = 0,1256 ml
Tabel 1.1 Tabel Resep Percobaan
Berat Kain awal (a1) = 6,28 gram
Bear kain akhir (a2) = 6,23 gram
A.    Perhitungan Pengurangan Berat






2.4 Diskusi dan Pembahasan
Proses percobaan pengelantangan(Bleaching) pada bahan poliester 100% perlu dilakukan, hal ini ditujukan untuk menghilangkan kotoran-kotoran organik, organik yang terwujud sebagai pigmen-pigmen warna alami yang tidak bisa hilang hanya dengan proses pemasakan saja. Proses pengelantangan dilakukan dengan merendam bahan dengan larutan H2O2, Na2CO3, Wetting agent, dan TSP dengan konsentrasi masing-masing larutan tertera pada Tabel 1.1 Tabel Resep Percobaan.
Senyawa-senyawa organik dalam bahan yang mempunyai ikatan rangkap dioksidasi atau direduksi menjadi ikatan tunggal atau menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga bahan tekstil tersebut menjadi putih. Metoda yang digunakan untuk proses pengelantangan dapat dilakukan secara baik maupun kontinyu. Pada system kontinyu (dibenam peras) dengan larutan pengelantang dan didiamkan selama 60 menit dalam suhu larutan yang mendidih. Proses bleaching bukan dari kain grey, namun dari kain yang telah melalui proses Desizing dan Scouring. Semua resep setiap kelompok sama tidak ada variasi baik itu volt maupun pereaksi, sehingga yang penjadi perbandingan adalah perbedaan resep pada proses sebelumnya yaitu pada proses scouring. Maka dari itu pada percobaan pengelantangan pada kain polyester 100 didapat hasil percobaan sebagai berikut:
      Hasil Pengurangan Berat tiap kelompok dalam persen (%)
Vlot
Kelompok1
Kelompok2
Kelompok3
Kelompok4
1:20
0,63
0,55
0,88
1,23
1:20
0,79
1,03
1,17
1,3
1:20
0,87
1,18
1,31
1,37
1:20
3,24
1,29
1,35
-
Rata-rata
1,38
1,01
1,18
1,3

Jika dilakukan analisis pada table hasil percobaan, maka akan terlihat bahwa hasil pengurangan berat setiap kelompok berbeda-beda serta adanya penaikan dan pengurunan persentase pengurangan berat. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh perbedaan resep pada proses scouring. Hasil yang didapat oleh kelompok satu sebesar 1,38%, kelompok 2 1,01%. Persentase pengurangan berat dari kelompok 1 ke kelompok 2 mengalami penurunan persentase pengurangan berat sebesar 0,37. Persentase pengurangan berat kelompok 3 sebesar 1,18%, dari kelompok 2 ke kelompok 3 mengalami kenaikan persentase pengurangan berat sebesar 0,17%. Kelompok 4 persentase pengurangan berat sebesar 1,3%, hasil persentase pengurangn berat dari kelompok 3 ke kelompok 4 mengalami kenaikan persentase pengurangan berat sebesar 0,12%. Dilihat dari persentase pengurangan berat terdapat penurunan dan penaikan persentase pengurangan berat. Idealnya persentase pengurangan berat mengalami penaikan karena pengaruh bedanya resep pada proses sebelumnya yaitu proses scouring, karena kain yang digunakan bukanlah kain grey polyester 100% namun kain yang telah mengalami proses scouring dan desizing. 























BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpilan sebagai berikut :
a.       Pada proses bleaching dipengaruhi oleh banyaknya H2O2.
b.      Semakin Tinggi penggunaan H2O2 sebagai zat pengelantang maka semakin tinggi persentase pengurangan berat.
3.2 Saran
Dalam melakukan proses pengelantangan (Bleaching) terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya:
1.      Karena sifat H2O2 yang mudah berubah maka harus diperhatikan apakah H2O2 tersebut masih layak digunakan atau tidak.
2.      Pada saat proses pelarutan pereaksi/ zat untuk proses pengelantangan sebaiknyan dilarutkan dalam air panas, hal ini ditujukan agar proses perendaman berjalan dengan cepat dan reaksipun berjalan dengan cepat pula.
3.      Penggunaan pereaksi haruslah benar, sesuai dengan perhitungan.






2 komentar:

  1. ini hanya sebagai referensi,,klo ada yg mau dgunakan sebagai referensi silahkan,,semoga dapat membantu ^^

    BalasHapus
  2. mantab kak terima kasih kak sangat membantu sekali ini

    BalasHapus